Selamat Jalan, Pak…

Kamis 8 Februari 2007, hari yang takkan pernah aku lupakan dalam sisa hidup ini. Sore hari itu mungkin untuk terakhir kalinya Bapak/Sahabatku memberikan wejangan dan amanah terakhir yang tak pernah aku duga sebelumnya. Dengan penuh kelembutan dan persahabatan kita ngobrol serius meski sedikit canda darimu…

“Le (panggilan akrab Bapak padaku), bapak wis 63 taun leh ku urip neng ndhonyo” beliau berkata, langsung aku potong “terus ngopo pak, pengen hadiah meneh po?” “Ora, bapak arep crito biyen ki Rasulullah sedho (wafat) umur 63 taun!” dengan senyum khasnya.Lagi-lagi aku langsung motong “La, Bapak ki wis jeleh po momong anak lan putu?” “Yo ora tho, rungokno dhisik, aku ono wasiat kanggo kowe, pisan nek aku mati kuburno aku nang ngendhi wae asal ojo tok guwang neng kali! Kaping pindho sing tenan le momong anak lan bojomu lan ojo lali karo sholat…” dengan senyum hangat bapak ngasih wejangan.

“La, bapak ki ngopo to kok nglantur koyo ngene?” tanyaku. “Ora aku ki pengen iktiba’ Rasulullah je Le.” beliau njawab. Aku diam tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku, hanya air mata yang bisa keluar dari mata ini.Saat kami berdua berbicara empat mata (bukan versi Tukul) ini kondisi Bapak masih sangat kelihatan segar banget. Sambil memegang kepalaku bapak ngomong “Le, ora usah nangis bapak mung pengen pesen karo kowe kok, bapak ora duwe maksud liyane.” Lima menit lebih aku gak bisa mengeluarkan kata-kata apapun, ku peluk erat tubuh Bapak dan dibalasnya dengan penuh kehangatan. “Wis-wis rasah nangis yo le, isih kae didhelok anakmu” beliau berkata dengan kelembutan.

Aku tidak habis pikir ternyata wejangan itu, adalah wejangan terakhir bapak kepadaku. Hemmm… mungkin inilah takdir yang diberikan padaku dan keluarga tercintaku oleh-Nya, harus diakhiri pada Rabu malam tanggal 14 Februari 2007 kami merasakan hangat nafas bapak di dunia ini. Tepat pukul 22.15 WIB beliau menghembuskan nafas terakhirnya, Alhamdulillah… di saat-saat terakhirmu menghirup nafas kami semua bisa mendampingi dan menuntunmu untuk selalu melafalkan asma-Nya. Takdir memang telah memisahkan kita Pak, namun cinta dan batin ini selalu ada dalam setiap hembusan nafas cita-cita dan harapanmu, untuk selalu Istiqomah dijalan-Nya.

Selamat jalan Bapak…
Selamat jalan Sahabat…
Selamat jalan Penuntun hidup…
Selamat jalan Guru terbaik…

Kami semua anak-anak dan cucu-cucu serta mak tidak akan pernah melupakanmu, sampai maut menjemput kami semua. Kami telah mengikhlaskanmu untuk datang kembali ke rumahmu yang lebih kekal akhirat.Doa kami untukmu selalu kami sampaikan setiap kami selesai menjalankan sholat, supaya Bapak tenang dan tersenyum di dunia Bapak yang baru. Sekali lagi selamat jalan Pahlawan,Bapak, dan Sahabat terbaikku… Kami selalu merindukan kasih sayangmu yang tulus pada kami. Bapak maafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan pada Bapak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s