Susahnya Bilan Terima Kasih

Teringat beberapa waktu lalu aku dan Alif kecil muter-muter Jogja di sore hari, kebiasaan lama selama menunggu Ibi pulang dari mencari rezeki. Tepat di perempatan Tamansari, ada pengamen yang memainkan icik-icik ala tutup minuman botol, sedikit tersentak saat Alif ngomong,”Icik-iciknya masih bagus punya Alif ya, Pak”. Aku diem sambil nglarang Alif ssst.. “ndak boleh ngomong gitu”, pengamen mrengut, trus Alif nyodori rezeki untuk pengamen. Lagi-lagi Alif bikin ulah, “Kok ndak ngomong makasih to?”, Seronok Alif. Dengan muka yang terlihat malu pengamen itu langsung pergi aja.

Dari pengalaman di atas aku mencoba sedikit survei, di kantor. Tepatnya pagi tadi setelah melakukan rutinitas nempelin jempol jari di scanner, aku markirin motor. Sedikit iseng aku nggantikan temen parkir, minta segepok karcis parkir yang jumlahnya sekitar 50 lembar per bendelnya. Satu per satu tak tempelin di plat motor mahasiswa yang membawa kendaraan roda 2, dengan mencoba memberi senyum ke para mahasiswa generasi penerus bangsa tersebut. Dari satu bendel karcis yang aku tempelin dan copi nya aku kasih mereka. Dari sekian banyak motor yang lalu lalang, hanya ada ada 2 mahasiswa yang ngucapin “terima kasih pak”. Wah susah juga mbuka mulut untuk ngucapin 3 kata terima kasih pak, sayang generasi bangsa kok nggak kenal rasa ngajeni… Mungkin sedikit cerita ini bisa menjadikan pengalaman kita bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s